Refleksi tentang Ketidakselarasan
Hai, apakabar?
Seutas sapaan singkat yang digunakan sebagai ekspresi dari kekhawatiran atau sekedar ke kepo an. Malam kemarin, saya baru saja mendapati pesan dengan bunyi apakabar?
Tanpa sadar, pernyataan itu hidup sepanjang hari dalam diri saya. Menanyakan pada diri sendiri bagaimana kabarnya.
Belum begitu baik, katanya.
Kemarin sempat bangkit, tapi kenyataan kembali membawanya dalam jurang yang lebih dalam. Ada banyak sekali hal yang ingin saya kecam, saya benci, dan saya nafikkan karena telah hadir sebagai kenyataan. Tibatiba saya terpikirkan tentang kalimat yang selalu saya katakan sendiri, “Tuhan itu Maha Baik, dan tidak pernah tidak”. Tapi kemarin, saya seolah menghakimi kebaikan Tuhan. Saya kembali mendikte apa yang harus Tuhan beri kepada saya yang menurut saya sesuai dengan usaha yang saya lakukan. Saya percaya dengan kalimat “Hasil tidak akan menghianati usaha”. Sampai akhirnya sadar, bahwa yang menentukan sebuah pemberian bukan hanya tentang apa yang telah kita upayakan, lebih penting dari itu adalah “restu dan ridho” Tuhan. Saya teringat kalimat, bahwa yang membawamu ke dalam surganya bukan amalmu, tapi rahmat Tuhan. Dan entah bodoh atau lugu, kadang kita cepat jumawa hanya karena telah sedekah di yayasan yatim piatu, memberi makan pengemis, atau berkurban di hari raya Idul Adha.
Sebuah mimpi memang harus diusahakan, sampai kapan jika Tuhan tidak juga mengabulkan? Sampai kamu tidak menemukan alasan lagi kenapa kamu harus mengusahakannya. Terkadang kita lupa, konsep yang selalu tertanam adalah usaha dan doa, padahal di antaranya adalah “sabar”. Sabar dengan apapun keputusan Tuhan akhirnya. Beberapa minggu lalu, saya membaca status whatsapp teman yang isinya “Tuhan mengabulkan doa dengan 3 cara, sekarang, nanti, atau diganti dengan yang lebih pantas untukmu. Tidak ada usaha yang sia-sia. Usaha memiliki 2 kemungkinan, jika tidak membawamu lebih dekat kepada mimpimu, ia akan membawamu lebih dekat kepada Tuhanmu (karena usaha dengan niat yang baik akan dicatat sebagai pahala). Tuhan itu Maha Baik, tapi akan terlihat sebaliknya jika manusia melihatNya dengan harapan yang dirangkai atas kehendaknya sendiri.
Mungkin kita masih akan marah dan kecewa. Kenapa teman yang seakan akan tidak begitu berusaha, terlihat santai, dan tidak sesibuk kita saat berjuang malah selalu mendapatkan apa yang dia mau. Manusia mulai membandingkan dirinya dengan teman sebelahnya, mengadu nasib dan menghitung upah yang seharusnya didapat. Ia luput, walaupun 24 jam kita bersama teman kita, melihat rutinitas mereka, tapi kita tidak akan pernah tau apa yang sedang ia pikirkan dan apa yang selalu ia dzikirkan dalam hatinya. Selain itu, pemberian Tuhan terbagi menjadi 3, nikmat, ujian, dan istidraj. Kita sama sama punya kemungkinan dan ketidaktahuan tentang kebahagiaan maupun kesedihan kita masuk di kategori yang mana. Olehnya, meyakini kebaikan Tuhan akan selalu menjadi jalan untuk tetap beryukur meski hidup sedang tersungkur.
Komentar
Posting Komentar