Keseimbangan Diri untuk Kedamaian Hidup
Seorang guru pernah mengatakan, bahwa hidup manusia itu disibukkan dengan dua hal, cinta dan cita-cita serta dibayangi dengan tiga rahasia, rizki, kematian, dan jodoh. Banyak ketidakpahaman tentang wujud bahagia yang sebenarnya bukan bergantung pada kontekstual lahir, tetapi kedamaian batin. Dalam pemahaman pemeluk Islam, Islam sendiri berasal dari kata salima yang berarti selamat, aslama yang berarti menyerahkan diri atau patuh, salam yang berarti damai atau kedamaian. Oleh karena itu, Islam sendiri dianggap agama yang damai karena datang membawa kedamaian, sedangkan manusia fitrahnya adalah mencari kedamaian(kebahagiaan).
Haidar Musyafa dalam bukunya yang berjudul Dahsyatnya Potensi Akal dan Hati Kita menjelaskan tentang pentingnya manusia menyadari keistimewaan yang Tuhan berikan, yaitu akal dan hati. Menurutnya, akal yang digunakan dengan benar dan hati yan dirawat dengan baik akan dengan mudah menerima hidayah dan kebenaran. Salah satu cara mlatihnya adalah dengan membiasakan menggunakannya untuk hal yang baik-baik, seperti membaca buku, mengikuti kajian keilmuan, dan memikirkan kebaikan-kebaikan untuk memberikan manfaat bagi lingkungan. Jika tubuh kkita terbiasa dengan hal baik, maka nurani yang ada dalam hati kita akan menolak ketika kita melakukan hal yang salah. Dalam proses tersebut, nafsu akan mengambil perannya mempengaruhi manusia untuk terus berbuat salah. Pada tahap inilah akal menjadi aktif dan tubuh akan merespon sesuai dengan hasil kesimpulan dari proses yang dilakukan oleh akal. Inilah pentingnya menjaga keseimbangan antara ketiga unsur dalam manusia tersebut. Jika diibaratkan, tubuh adalah wujud fisik yang geraknya merupakan representasi dari akal, akal adalah psikologis yang merespon intuisi hati, dan hati adalah jiwa yang akan mengarahkan pemiliknya pada kebenaran atau kesalahan, keraguan atau keyakinan, dan iman atau ingkar.
Sama halnya sebuah pisau, ia tidak akan berfungsi secara maksimal jika tidak pernah diasah dan digunakan, begitupun dengan akal dan hati manusia. Jika akal dan hati kita jarang digunakan untuk berpikir dan merasakan yang terjadi di sekitar kita, maka ketajamannya akan berkurang. Dengan begitu, akal kita akan menjadi tumpul untuk dapat memikirkan kebenaran dan kesalahan, sedangkan hati akan menjadi tumpul untuk dapat merasakan kebaikan dan keburukan.
Sejak kecil kita selalu didorong untuk mempercayai hal-hal tanpa sebuah penjelasan. Bahasa yang sering dipakai oleh orang tua kepada anak, guru kepada murid, atau orang dewasa kepada anak kecil cenderung bahasa yang bersifat instruktif (perintah/doktrin) daripada bahasa yang bersifat koordinatif (diskusi). Akhirnya, kebanyakan manusia tumbuh dewasa tanpa memiliki ambisi dan kemauan yang kuat untuk melakukan hal-hal besar, dan masalah besar yang sering dihadapi adalah ketidakpercayaan diri anak terhadap dirinya sendiri. Hal ini tentunya bertolak belakang dengan keistimewaan yang telah Allah swt. berikan kepada manusia, yaitu akal sebagai makhluk paling mulia di antara semua makhluk yang diciptakanNya. Kita boleh saja mengagumi pemikiran orang lain, tapi kita tidak boleh mengagungkan pemikiran orang lain, karena kita sendiri memiliki potensi pemikiran yang sama dengan mereka.
“Mendewakan pemikiran orang lain akan membuatmu kehilangan ketajaman pemikiran, tapi mendewakan pemikiran sendiri akan membuatmu kehilangan kemanusiaan”
Jadi bagaimana kita harus terus bertumbuh? Tumbuhlah dengan terus mencari makan. Bukan hanya lambung yang perlu diisi, tetapi juga akal dan hati.
“Berpikirlah positif karena apa yang kita pikirkan, maka itulah yang akan kita lakukan, dan hukum alam datang berdasarkan apa yang telah kita lakukan (hukum sebab-akibat).”
Dengan terus meyakini dzon yang baik, maka kekhawatiran kita tentang apa yang belum terjadi akan berkurang, dan penyesalan tentang apa yang sudah berlalu akan perlahan hilang, dan pada saat itulah kedamaian akan mendatangkan kebahagiaan.
Komentar
Posting Komentar