Desain Cover Tidak Dibuat untuk Dipuja
Istilah pencarian jati diri sepertinya sudah tidak asing lagi bagi masyarakat, terutama bagi generasi Millennial hingga hingga Alpha. Isu ini semakin diromantisasi bersamaan dengan menyebarnya fenomena mental health yang semakin excist di masa pandemic covid19, walaupun sebenarnya isu ini sudah ada sejak zaman pra sejarah. Belakangan ini kita sering mendengar nasihat tentang peringatan untuk tidak kehilangan diri sendiri. Perubahan zaman ternyata juga mengubah pandangan tentang begitu pentingnya identitas diri seseorang dan bagaimana orang tersebut akan mempertahankan identitasnya di tengah pencampuran budaya tak hampir infinity.
Menurut Stella Ting Toomey (Professor of Human Communication Studies at California), Identitas sendiri merupakan refleksi diri atau cerminan diri yang berasal dari keluarga, gender, budaya, etnis, kepercayaan, dan proses sosialisasi. Idealnya, identitas seseorang akan berintegritas dengan what is on them. Seseorang akan menggunakan identitasnya sesuai dengan seperti apa ia ingin berkesan di benak orang lain. Namun sayangnya identitas tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang mencerminkan esensi dari kehadiran seseorang. Bahkan kemerdekaan dan kebebasan penentuan identitas seserang dipegang oleh kebijakan dan khalayak umum semata. Seperti yang akhir-akhir sering kita lihat, yaitu identitas keagamaan, terutama bagi kaum muslimah.
Banyak sekali perdebatan yang terjadi, khususnya di media digital di mana seseorang akan dengan mudah menghujat dan menghakimi orang lain hanya dengan melihat kain yang menjulur di tubuhnya. Mirisnya lagi, penampilan kita menjadi lebih ruwet dengan pandangan-pandangan masyarakat yang tajam dan menusuk. Berpakaian sangat tertutup dikatakan liberal, berpakaian minimalis dibilang tak bermoral, berpakaian biasa dicap tak ideal, berpakaian syari dipandang hidup terlalu formal. Sayangnya, hal ini tidak hanya berakhir di ketikan kolom komentar. Pandangan tersebut tumbuh menjadi sebuah diskriminasi yang berani dilakukan di interaksi nyata. Seperti kasus mahasiswa yang dipaksa melepas niqabnya jika mau mengikuti kelas perkuliahan di salah satu kampus Islam, penahanan dan penyiksaan perempuan oleh petugas kemananan yang berujung kematian karena menggunakan hijab yang tidak tertutup sempurna, dan masih banyak kasus-kasus lain yang sejenis.
Katanya, ingin lebih banyak orang memeluk Islam, tapi ketika ada aktris yang muallaf dihujat karena tibatiba lepas hijab. Akhirnya apa? Ia menjadi trauma dengan agama Islam karena perlakukan sesame muslim sendiri yang (katanya) mendakwahkan kebenaran. Dengan kebenaran, umat muslim sendiri juga bersikap sesuai dengan aturan syariatnya, bahwa ada batas-batas aurat bagi muslim maupun muslimah. Namun pandangan dan cara penyampaiannya menjadi momok yang membuat umat muslim dipandang sebagai sosok yang kolot dan kaku. Ada sebuah ayat yang mungkin selaras dengan keadaan seperti ini, yang artinya “Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama Islam. Sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat….” Ayat ini diturunkan sebagai jawaban atas pertanyaan Hushain dari kaum Anshor yang bertanya kepada Rasulullah tentang penolakan kedua anaknya untuk masuk Islam, apakah ia perlu memaksa mereka? Dan dijawab dengan “Tidak ada paksanaan dalam (menganut agama)”.
Syekh Thahir bin ‘Asyur dalam tafsirnya menjelaskan, “Redaksi ayat ini menjadi ta’qib(catatan) dari ayat kursi (255) yang mencakup tentang dari ayat-ayat sebelumnya tentang bukti-bukti ketauhidan, keagungan Sang Pencipta, dan membongkar kekafiran bangsa terdahulu sehingga menerima agama yang jelas akidah dan benar syariatnya tanpa kekerasan dan paksaan. Nemun, setelah adanya bukti dan penjelasan tersebut, orang-orang masih dalam kemusyrikan. Syekh Thahir bin ‘Asyur melanjutkan, “Redaksi ayat ini meskipun menggunakan La Nafi (artinya tidak ada), namun memiliki semantika makna La Nahi (artinya jangan), maksudnya “Jangan ada paksaan dalam memeluk agama Islam”.
Walapun dalam konteks mengingatkan, namun peringatan yang disampaikan harus dengan cara yang baik, bukan hujatan, paksaan, apalagi kekerasan. Dalam dakwah yang disampaikan oleh Habib Ja’far, beliau mengatakan ada begitu banyak kebaikan yang bisa kita lakukan bersama-sama tanpa memandang apa identitas kita, asalkan kebaikan hatinya sama. Orang tidak akan menilai Islam dari isi kitab kita, tapi mereka akan melihat Islam melalui kita, bukan hanya bagaimana pakaian kita, tapi tutur dan sikap kita dalam menghidupi kehidupan. Dalam kalimat yang dikutip oleh Kalis Mardiasih dalam bukunya, Humairah Hanif mengatakan, “please start accepting me for what is in my head, rather than what is on it”
Sadar bahwa kita hidup di negara yang heterogen, dengan berbagai keyakinan dan kepercayaan, menjaga untuk tidak berselisih merupakan upaya mulian menjaga kedamaian.
Komentar
Posting Komentar