Ada Beberapa Hal yang Boleh dan Harus Dianggap Tidak Apa-Apa
Pagi ini menjadi pagi yang sama dengan pagi- pagi yang lalu. Bangun tidur dan menyadari, bahwa masih banyak mimpi dan target yang belum tercapai, payahnya ada juga yang sama sekali tak berprogres. Untungnya aku belum lupa jika syukur menjadi yang hal harus diutamakan sebelum keluh. Jika anda belum melakukannya, lakukan sekarang. Bersyukur, aku tidak lupa bagaimana cara membaca, bagimana cara menulis, dan bagaimana cara menjadi bahagia dengan keputusan yang telah aku ambil.
Dewasa ini, hal yang menyebabkan manusia menjadi sedih berubah begitu kompleks. Bukan hanya tentang kehilangan orang tersayang, tapi juga tentang kehilangan diri sendiri. Banyak yang telah mengafirmasi, bahwa bertambahnya umur menjadi momok yang menakutkan. Padahal menjadi tua itu pasti, yang kita perlu pilih adalah bagaimana menjadi tua dengan serta menjadi dewasa. Dewasa bukan hanya tentang manusia yang punya pekerjaan dengan gaji di atas 10 juta, menikah di usia 20 tahun, membeli rumah dan mobil untuk kelaurga barunya, atau pencapaian pencapaian yang lain. Kita perlu menyadari, bahwa menjadi dewasa tidak seduniawi itu. Stigma jahat dan tekanan yang keras dari masyarakat tidak seharusnya dinormalisasi.
“Kita harusnya paham, bahwa tidak apa jika sesekali dalam perjalanan nanti, kita masih membutuhkan pendapat orang lain untuk membuat sebuah keputusan, bahwa saat marah kita masih membutuhkan waktu sendiri untuk menangis, bahwa saat sakit kita butuh bersenang senang untuk sembuh, bahwa saat kehilangan apa atau siapa kita butuh afirmasi tentang merasakan lara dan sedih adalah hal yang tidak apa-apa.”
Menjadi dewasa tidak semenakutkan itu. Katanya,
menginjak usia dewasa nanti seseorang akan dihadapkan dengan banyaknya
kehilangan. Tidak perlu merasa kecewa pada diri sendiri karena orang lain harus
pergi meninggalkanmu yang mungkin tidak asik lagi. Tapi lagi-lagi kita harus
memahami, kepentingan setiap manusia akan berubah dan berkembang seiring
berjalannya waktu. Hal yang bisa dijadikan opsi adalah biarkan yang pergi itu pergi,
fokus pada apa yang tersisa dan masih ada. Aku akan mengatakan, babhwa tidak
apa-apa jika suatu saat nanti semua orang akan pergi meniggalkanmu, asal dirimu sendiri tidak meninggalkanmu. Tidak apa-apa jika nanti kamu kehilangan banyak hal, asal kamu tidak kehilangan diri-sendiri.
Komentar
Posting Komentar