Problematika Menjadi Diri Sendiri
Mungkin sebagian dari kita akan bertanya mengapa menjadi diri sendiri akan menimbulkan masalah? atau apakah menjadi diri sendiri itu membutuhkan cara?
Menjadi diri sendiri bukanlah sebuah masalah, tetapi solusi untuk menjalani hidup dengan damai dan merdeka. Bukan tentang bagaimana cara menjadi diri sendiri, tetapi lebih ke keberanian untuk menjadi diri sendiri.
Menjadi diri sendiri berarti membiarkan pikiran mendengarkan kata hati tentang apa yang ingin dan tidak ingin ia lakukan, tentang apa yang sebenarnya membuatnya nyaman dan bahagia. Kebanyakan orang yang hidup di era post truth ini cenderung melakukan dan memilih hal yang dilakukan dan dipilih oleh banyak orang. Dengan demikian, hidup dan lingkungan kita akan dipenuhi dengan gaya dan kebenaran yang common sense. Hal ini akan semakin menjadi-jadi ketika kondisi membawa kita pada era digital, saat media mulai digunakan sebagai ajang eksistensi diri. Manusia menjadi makhluk yang hidup untuk sebuah penilaian dan pengakuan, sehingga kita yang walaupun hanya diam di rumah saja, dapat melihat apa yang dilakukan dan dicapai oleh orang lain. Hal ini dapat memacu adrenalin seseorang untuk bersaing, berlomba menjadi manusia paling unggul dengan mencari hal yang dapat dibanggakan.
Nafsu tersebut dapat membawa kita memilih sesuatu yang sebenarnya bukan hal yang sangat kita inginkan sejak awal. Jika hal ini terus dilakukan, manusia akan mulai melupakan cara mendengarkakn hati kecilnya sendiri.
Keberanian menjadi diri sendiri di era
seperti ini sama saja dengan mengambil keputusan untuk berani menjadi berbeda
dengan orang lain, membiarkan diri merasakan nyaman kapanpun dan di manapun
tanpa terusik dengan perbedaan dan cercaan orang lain. Menjadi diri sendiri
berarti membebaskan diri dari kepura-puraan di depan dunia. Kita memang manusia
beragama dan hidup di lingkungan yang penuh norma serta local wisdom, pun
negara yang disesaki dengan undang-undang, Namun menjadi diri sendiri berarti
juga berani menyuarakan aspirasi yang ada dalam pikiran.
Jika sudah sampai sini, mungkin masih ada yang bertanya tentang apakah aku
sudah menjadi diri sendiri? Sebenarnya diriku sendiri ini diri yang bagaimana?
Dan pertanyaan ini hanya dapat dijawab oleh orang yang bertanya. Apakah kita yakin, bahwa kita yang sekarang ini adalah "kita" yang sejatinya kita inginkan? Atau "kita" ini adalah kita yang ternyata juga sudah terhegemoni oleh gaya hidup manusia pada umumnya? Sudahkah kita mengenali diri kita? Atau mungkin juga kita belum kenal dengan diri kita sendiri? Tidak mengenali diri sendiri membuat kita tidak dapat memahami diri sendiri, dan ketidakpahaman pada diri sendiri adalah kesempatan untuk menyakiti diri sendiri.
Pembahasan tentang cara mengenali diri akan kita bahas di kertas selanjutnya, terimakasih untuk kita yang sudah berani menjadi diri sendiri.
Komentar
Posting Komentar