Mengendalikan “aku” dengan AKU
Pada suatu ketika, Fulan berangkat sekolah mengenakan seragam rapi dengan mengendarai sepeda hadiah dari ayahnya tahun kemarin. Di tengah perjalanan, Fulan mendapati jalan raya yang penuh dengan genangan air sisa hujan semalam. Fulan mengendarai sepeda dengan sangat hati-hati, namun terkadang ketololan datang karena kita dekat dengan orang yang ceroboh. Mobil putih melaju sangat kencang dari arah yang sama dan meghempaskan air genangan hujan itu hampir ke seluruh seragam Fulan. Seketika juga, Fulan marah, teriak, mengumpat, memaki aspal dan pohon yang berbaris di sepanjang tepi jalan. Kemudian ia tersadar, bahwa yang bodoh sebenarnya dirinya sendiri, menghabiskan tenaga memaki setiap mili jalan itu membuatnya seperti dikendalian orang lain, walaupun itu adalah dirinya sendiri. Fulan menghubungi wali kelasnya untuk izin telat karena ada kendala, lalu Ia pulang untuk membersihkan bajunya, berangkat lagi ke sekolah dan hari berjalan lancar seperti biasanya.
Tidak ada yang menarik dari cerita di atas. Sayangnya manusia memang selalu memilih hal yang rumit daripada menerima dan membuatnya menjadi mudah. Ini kenapa sampai banyak seri buku yang mengajarkan bagaimana cara menjalani hidup sehari-hari dengan judul awalya adalah “seni”. Iya, karena untuk menjalani hidup biasa saja di jaman serba luar biasa ini membutuhkan seni. Seperti yang kita bahas di catatan sebelum ini, bahwa masalah menjadi begitu kompleks dan luas. Kita bisa saja marah atas segala hal tidak menyenangkan yang kita alami, contohnya mengumpat dan berandai andai bahwa yang terjadi sekarang tidak seharusnya terjadi pada kita, kita bisa saja mengatakan kalimat sarcasm untuk meningalkan orang yang kita anggap telah menyakiti kita dan memberinya kenangan bernama luka, kita bisa saja membakar rumah para koruptor yang mengambil uang rakyat untuk kepentingannya pribadi, atau pada pemangku kebijakan perusahaan yang tiba-tiba mengeluarkan surat PHK untuk ratusan karyawannya, atau mungkin sekedar marah pada iklan youtube yang terlalu sering muncul, bisa juga marah karena nyamuk yang menggigit kita saat tidur, atau pada teman yang tidak dengar saat diajak bicara, dan ketidakinginan kita yang lain, apakah kita berhak untuk marah? Tentu secara psikologis, manusia ini memang memiliki sisi emosionalnya. Emosi sendiri adalah bentuk ekspresi atau reaksi yang diberikan oleh seseorang atas peristiwa yang terjadi, baik itu kebahagiaan, kesedihan, kekecewaan maupun keterkejutan. Tentu orang boleh menggunakan ekspresinya sesuai dengan apa yang dia mau.
Seorang guru pernah mengatakan kepada muridnya, mari kita anggap tubuh ini adalah rumah, emosi itu adalah perabotannya, kita sebagai tuan rumah berhak memilih perabotan seperti apa yang akan kita pakai untuk menghiasi rumah kita setiap hari. apakah marah?senang?bahagia?sedih?atau emosi yang lain?
Jatuh berdarah bukan berarti akan menyebabkan kesakitan, kehilangan bukan berarti akan menyebabkan kesedihan, memenangkan hadiah bukan berarti akan mendatangkan gelak tawa dan kebahagiaan. Kehilangan, musibah, hadiah itu adalah takdir yang harus kita hadapi, sedangkan akan bersedih atau nggak, akan menangis atau nggak, itu adalah hal yang kita bisa kita control dan pilih. Layaknya, manusia harus mulai mempelajari reefleksi hidup ala Nietzsche tentang fatum brutum amor fati. Bagaiman seseorang akan menjalani hidup dengan kebebasan dan menganggap bahwa apapun yang terjadi, itulah yang kita cintai. Seperti contoh cerita Fulan di atas, bagaimana bisa Fulan mencintai genangan yang membuat seragamnya menjadi kotor?atau mencintai pengendara yang membuat genangan memeluknya? tentu dia tidak harus mencintai keduanya. Dia harus mencintai dirinya dan usahanya telah berhati-hati, dirinya dan usahanya yang kemudian sadar dan sabar, dirinya dan usahanya untuk menjadi solutif pada masa-masa kritis. Memilih menjadi bahagia adalah sebuah kebebasan menjadi manusia.Manusia itu hidup dari pikirannya, ini bisa
saja menjadi alasan Descrates megatakan Cogito Ergo Sum, apa yang kita
pikirkan akan mencerminkan tutur yang kita ucapkan, tutur yang kita ucapkan
akan menjadi prilaku pembentuk kebiasaan, apa yang kita biasakan tidak akan jauh dari takdir yang akan kita lewati. Kendali atas tubuh kita ada di diri kita sendiri, tepatnya pada akal dan hati. Jika hati dan pikiran kita baik, tubuh kita akan membantunya menjadi lebih baik. Jika kalian pernah mendengar, "di mana kaki di pijak, di situ langit dijunjung", Jika kita telah dipilih untuk lahir sebagai manusia, maka jadilah manusia seutuhnya.
Komentar
Posting Komentar